Bioenergi dari CPO Kelapa Sawit Bisa Jadi Solusi Implementasi RUU Energi Baru dan Terbarukan

211

Baca juga: Pendekatan yang Dapat Dilakukan untuk Optimalkan Berbagai Daya Tarik Wisata di Satu Kawasan

Oil World pada 2018 mencatat konsumsi minyak nabati naik 10 persen setiap tahunnya, termasuk di dalamnya minyak sawit.

Di sisi lain, apabila kelak sawit diposisikan sebagai sumber energi mainstream, bisa jadi akan terjadi pertarungan antara kepentingan pangan dan energi.

Sebab, pasokan sawit hingga saat ini tertuju pada pangan, misalnya minyak goreng.

Namun, Teguh tidak khawatir akan hal itu. Pasalnya, komoditas yang satu ini punya produktivitas tinggi.

“Sawit memiliki produktivitas yang rata-rata tinggi, yakni 4 ton per hektar per tahun,” tutur Teguh.

Baca juga: Alumnus Fakultas Pertanian Angkatan 1986 Diangkat Jadi SEVP Operation PTPN II

“Unggul jauh dibandingkan dengan produktivitas kedelai (0,5 ton per hektar per tahun), atau rapeseed yang 0,9 ton per hektar per tahun. Produktivitas minyak sawit yang tinggi juga membuatnya jadi penyumbang tertinggi produksi minyak nabati dunia.”

“Yakni 36,7 persen dari 206,5 juta ton atau setara 75,78 juta ton pada 2019,” jelas alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1968 itu.

Pada 2019, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat total produksi sawit dalam negeri mencapai 51,828 juta ton (terbesar di dunia).

Sebanyak 47,180 juta ton di antaranya merupakan CPO. Sementara serapan konsumsi dalam negeri untuk minyak sawit baru mencapai 14,3 juta ton (Oil World, 2019), dan sisanya diekspor.

Artinya, masih ada cukup banyak ruang jika sawit benar-benar jadi pilihan utama untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Baca juga: Dirjen Nizam Jelaskan Empat Aspek Penting dalam Pembelajaran Jarak Jauh