Magetan Telah Berusia 345 Tahun, Bupati Pertamanya adalah Kepala Pelabuhan Semarang

1572

Baca juga: Jadi Kekuatan Ekonomi, Budi Karya Sebut Potensi Desa Harus Terus Digali

Sementara itu, Ki Ageng Mageti tampak bahagia melihat anaknya menikah.

Sejak menikah dengan Sedah Mirah, Basah Gondokusumo diberi oleh Ki Ageng Mageti untuk mengelola Padepokan Mondrogiri.

Tak dinyana, pendiri padepokan sekaligus sang mertua pergi meninggalkan Basah Gondokusumo dan istrinya dengan cepat.

“Pada tahun 1673, Ki Ageng Mageti surud ing kasedan jati, manjing ing tepet suci, mapan ing swargaloka,” tutur Purwadi.

Patih Nrangkusumo menyadari bahwa jasa Ki Ageng Mageti begitu besar dalam mendidik masyarakat. Terlebih, padepokan asuhannya melahirkan tokoh-tokoh Kerajaan.

Baca juga: Bantu Mitigasi Ekonomi Warga, Pasardesa.id Besutan Lurah Panggungharjo Raih Pendapatan Rp1,6 Miliar

Karena itu, dia mengusulkan kepada Raja Mataram agar Mondrogiri diberi status setingkat kabupaten otonom.

“Sinuwun Amangkurat Tegal Arum setuju sekali. Maka Kademangan Mondrogiri ditetapkan sebagai Kabupaten Magetan,” ucap Purwadi.

“Kata Magetan berasal dari kata dasar Mageti. Tanah dan wilayah milik Mageti dinamakan Magetan.”

“Terhitung tanggal 12 Oktober 1674, pimpinan Kabupaten Magetan diserahkan kepada Raden Mas Basah Gondokusumo,” beber dosen Fakultas Bahasa dan Seni UNY.

Atas amanah yang diemban sebagai bupati pertama Magetan, Basah Gondokusumo mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung Adipati (KRTA) Yosonagoro.

Baca juga: Bambang Laresolo: Teh Indonesia Harus Bisa Mengekor Kesuksesan Kopi

KRTA Yosonegoro dibantu oleh Ki Ageng Getas yang berperan sebagai sekretaris daerah.

Ki Ageng Getas adalah anak ahli birokrasi dan tata praja dari Wirosari, Grobogan, yaitu Ki Ageng Getas Pendowo.

KRTA Yosonegoro lantas memimpin Magetan dengan arif dan bijaksana hingga 1686.

Riwayat hidup Ki Ageng Mageti dan Sedah Mirah yang mendampingi Bupati Yosonegoro membuat warga Magetan merasa beruntung. Sebuah prasasti lantas dibangun untuk menghormati mereka.

“Pada tanggal 12 Oktober 1675 dibangun prasasti dengan tetenger candrasangkala Manunggaling Roso Suko Hambangun,” pungkas Purwadi. (Ts/-Th)

Baca juga: Strategi Rakimin Menjaga Ketahanan Pangan Nasional Lewat Bisnis Tanaman Benih