Upaya Bupati Seno Samodro dalam Mendukung Petani Boyolali Selama Pandemi Covid-19

359
Bupati Boyolali, Seno Samodro, mengapresiasi keterlibatan Genduli (Gelanggang Peduli Petani) yang dipelopori oleh alumnus Fakultas Kehutanan UGM, Iqbal Tuwasikal. Foto: Radioidola
Bupati Boyolali, Seno Samodro, mengapresiasi keterlibatan Genduli (Gelanggang Peduli Petani) yang dipelopori oleh alumnus Fakultas Kehutanan UGM, Iqbal Tuwasikal. Foto: Radioidola

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Bupati Boyolali, Seno Samodro, menggulirkan Perda 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Target dari Perda yang dicanangkan Seno adalah peningkatan produksi bahan pangan untuk berkontribusi pada pasar nasional.

Hal itu bisa dicapai jika Boyolali menjadi lumbung padi dan pangan nasional.

Serta Boyolali, yang terkenal sebagai kota susu, mampu meningkatkan produksi daging, hasil ternak, serta hasil perikanan.

Salah satu langkah konkret yang diambil Seno agar produksi bahan pangan Boyolali meningkat adalah pemberian insentif keringangan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBBP2) sebesar 90 persen.

Baca juga: Ganjar Pranowo: Krisis Pangan Masyarakat Bisa Dibereskan KAGAMA Melalui Gerakan Canthelan

Insentif tersebut diberikan pada sawah dengan irigasi teknis dan paling tinggi seluas 5.000 meter persegi.

“Sawah-sawah dengan irigasi teknis di Boyolali tidak perlu membayar pajak, alias pajaknya gratis,” kata Seno, dalam webinar Pemberdayaan Masyarakat I: Sinergi Genduli dan Canthelan, yang digelar KAGAMA Care, Kamis (1/9/2020).

“Pertanian di Boyolali pada dasarnya sudah cukup maju. Saya membelikan traktor sudah lebih dari 1.000.”

“Sehingga petani di Boyolali sudah tidak ada yang mencangkul. Semuanya sudah pakai traktor,” terang alumnus Sastra Prancis angkatan 1983 tersebut.

Sayangnya, kata Seno, di Boyolali tidak ada pengangguran, tidak ada pengamen, tidak ada gelandangan.

Baca juga: Hadapi Tekanan Selama Pandemi, Industri Rumah Sakit Perlu Berbenah