Pengurus KAGAMA Jateng Ini Jelaskan Nilai-nilai Kewarganegaraan dalam Olahraga Lempar Pisau dan Kapak

456

Baca juga: Berpotensi Untung Besar, Begini Kiat Berbisnis Tanaman Anggrek ala Heni Indarwati

“Lalu saya bikin pisau kecil dan shuriken (pisau lempar khas ninja) berbentuk bintang kemudian dilempar-lempar. Saya lempar ke mana-mana sampai dimarahi kakek, dimarahi orang tua.”

“Lama kelamaan saya berpikir, nggak pantas ya seperti itu. Ini pantasnya di lempar ke mana?” kenangnya.

Hobinya dalam melempar pisau diteruskan ketika bergabung dengan Satuan Resimen Mahasiswa UGM saat kuliah S1.

Noor kemudian menemukan komunitas di tingkat lempar pisau nasional dan internasional ketika mendalami teori kewarganegaraan dalam komunitas.

Noor menjelaskan, tidak sembarang pisau boleh dilempar. Ada standar-standar tertentu dan itu bukan pisau dapur.

Baca juga: Meskipun Bekerja di Tempat yang Bukan Bidangnya, Rifdan Tak Menganggapnya sebagai Kendala

Menurut Noor, pisau lempar memang punya bentuk seperti pisau lain pada umumnya.

Namun ingat, lanjutnya, ketika digesek-gesek ke kulit, pisau lempar tidak menimbulkan luka.

Satu-satunya sisi yang dipakai pada pisau lempar adalah keruncingan bagian ujungnya.

“Ada standar olahraga yang tidak boleh diabaikan. Karena tujuan utamanya adalah olahraga,” tutur Noor.

“Kalau memakai pisau tajam, itu sebagai keterampilan seorang prajurit militer yang tujuannya adalah kombatan (petempur). Jadi beda,” bebernya.

Baca juga: Mekanisasi Pertanian Bukan Sekadar Mengganti Cara Manual dalam Bertani