Mimpi Besar Aktivis KAGAMA Gelanggang Demi Sejahterakan Petani Lokal

139

Baca juga: Ganjar Pranowo: Krisis Pangan Masyarakat Bisa Dibereskan KAGAMA Melalui Gerakan Canthelan

Kondisi memprihatinkan yang dialami petani ini menjadi latar belakang Iqbal dan kawan-kawan membuat gerakan sosial Genduli (Gelanggang Peduli Petani).

“Yang kami lakukan sederhana saja. Kami berusaha membikin pasar baru yang skalanya kecil sekali,” tutur Iqbal.

“Tetapi paling tidak, kami berbuat apa yang kami bisa. Semoga misalnya di tempat lain ada yang membuat hal sama, harapannya ini menjadi gerakan yang besar.”

“Sehingga suplai sayur dari petani bisa terserap oleh pasar,” terang pria berkaca mata ini.

Iqbal menjelaskan, pemasaran yang dilakukan oleh Genduli memerhatikan protokol Covid-19. Yakni melalui open pre-order memanfaatkan WhatsApp dan Google form.

Baca juga: Hadapi Tekanan Selama Pandemi, Industri Rumah Sakit Perlu Berbenah

Sayur dari petani dijual dalam bentuk paket. Alasannya, Genduli mengasumsikan sayur dikonsumsi satu keluarga (ayah, ibu, plus dua anak) yang rata-rata per minggu menghabiskan 7-8 kg.

Kalau disederhanakan, per orang akan mengonsumsi minimal 200 gram per hari.

“Tujuannya apa? Karena kita ini sedang buying time di masa pandemi ini. Misalnya vaksin tiba awal tahun ini, kita masih belum tahu kapan giliran akan divaksin,” kata Iqbal.

“Kita juga belum tahu apakah vaksinnya sudah stabil atau belum. Karena itu, pada masa buying time ini, yang bisa kita lakukan adalah menjaga imunitas dengan suplai nutrisi melalui sayur,” bebernya.

Berkat jalinan komunikasi yang intens dengan petani, kini Iqbal dan tim Genduli dipasrahi 2 hektar lahan untuk membangun pertanian terpadu di Jogja.

Baca juga: Berpotensi Untung Besar, Begini Kiat Berbisnis Tanaman Anggrek ala Heni Indarwati