Perjalanan Yoyok Membangun Waroeng SS, Dari Warung Tenda sampai Buka Cabang di Luar Negeri

10522

Baca juga: Masa Mahasiswa Ketua IGEGAMA Sibuk Jadi Mapala Hingga Atlet Gantole

Waroeng SS dalam bentuk tenda yang berdiri di sebelah barat Grha Sabha Pramana merupakan Waroeng SS pertama.

Sambal menjadi menu sekaligus ikon utama dari rumah makan ini.

Kala itu, di tahun 2002, belum ada rumah makan yang mengibarkan ‘bendera sambal’, kebanyakan bisnis kuliner ketika itu mengangkat bakso, soto, dan ayam goreng sebagai menu utama.

“Saya tidak pernah merencanakan, bahkan membayangkan Waroeng SS bisa sebesar sekarang. Saya hanya berpikir bagaimana caranya bisnis ini terus bertahan.”

“Warung tenda ini saya dirikan ketika masih kuliah dan saat itu saya memang tidak ada pikiran untuk berkarier di bidang keilmuan yang saya ambil semasa kuliah,” jelasnya.

Baca juga: Kenangan Ganjar Pranowo bersama Jakob Oetama

Dia menyebut bisnis ini merupakan bisnis yang padat karya dan padat masalah.

Tim Yoyok menjalankan sendiri rantai bisnisnya, mulai dari membuat makanan termasuk sambal, sampai melayani langsung para pelanggan satu per satu.

Rantai kerja bisnis Waroeng SS, kata Yoyok, sangat panjang, sehingga tak menutup kemungkinan akan adanya persoalan yang muncul.

“Alhamdulillah konsep bendera sambal itu diterima dan terus berkembang. Dari jumlah menu 15 sambal hingga saat ini menjadi 32 sambal, berkat inovasi-inovasi yang dilakukan.”

“Menurut saya, saat ini Waroeng SS sudah menjadi industri baru. Posisi sambal saat ini juga bukan sekadar pelengkap, tetapi mahkota hidangan, karena mulai banyak orang tak bisa makan tanpa sambal,” ungkapnya.

Baca juga: Ari Dwipayana: Pandemi Menjadi Momentum Menata Ubud