Pakar Silvikultur UGM: Pinus Merkusii Bernilai Ekonomi Tinggi

371

Baca juga: Ganjar Pranowo Dukung SDM Siap Kerja di Kawasan Industri Kendal

Dari populasi Aceh, kata Naiem, pinus merkusii kemudian berkembang ke Jawa, Bali, dan Sulawesi Selatan.

“Dari informasi yang saya himpun, pinus merkusii menjadi penyelamat bagi pendapatan Perum Perhutani,” ungkap Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM ini.

Pada tahun 1977-1997, Pusat Studi Kajian Silvikultur Intensif UGM telah melakukan eksplorasi terhadap penanaman pinus merkusii di populasi Jawa dan Bali.

Pihaknya menemui beberapa persoalan dalam penembangan pinus merkusii, utamanya soal batangnya yang bengkok dan pertumbuhan tanaman lambat.

“Kita ambil materi genetiknya dari bagian pohon yang masih lurus, lalu kita kumpulkan benih dan disemai sampai akhirnya membangun kebun benih yang luar biasa.”

Baca juga: Jakob Oetama Meninggalkan Warisan Penting dalam Dunia Jurnalistik

“Agar genetik dasarnya bisa terjaga, kita bangun konservasi eksitu untuk pinus di Jember.”

“Jadi, batang pinus yang bengkok dan kecepatan tumbuhnya yang kurang, bisa kita buat lurus dan memiliki pertumbuhan yang baik,” tutur Naiem.

Pada 1998, Naiem bersama timnya juga melakukan eksplorasi pinus merkusii khusus yang menghasilkan banyak getah.

Produksi getah merkusii akan semakin rendah jika semakin tinggi tempat penanamannya.

“Sebanyak 1000 pohon kami pilih dari seluruh Jawa. Lalu kita bangun kebun benihnya, beberapa diantaranya di Sukabumi dan Pekalongan. Kebun benih tersebut sudah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan operasional.”

Baca juga: Owner Sambel Jeng Nia Alumnus UGM: Mengolah Cabai Penting untuk Menambah Nilai Jual