KAGAMA Bali Gelar Pameran Seni Rupa sebagai Refleksi Masa Pandemi

138
Sebanyak 37 karya dari tujuh perupa tampil dalam pameran yang digagas Pengda KAGAMA Bali bersama Agung Rai Museum of Art Museum Ubud. Foto: KAGAMA Bali
Sebanyak 37 karya dari tujuh perupa tampil dalam pameran yang digagas Pengda KAGAMA Bali bersama Agung Rai Museum of Art Museum Ubud. Foto: KAGAMA Bali

KAGAMA.CO, DENPASAR – Pameran lukisan Kelompok Sapta Pracasta digelar Pengda (Pengurus Daerah) KAGAMA Bali bersama Agung Rai Museum of Art Ubud, 14 Agustus – 14 September 2020.

Pameran ini mengambil tema Kerthamasa. Pameran ini telah dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, Prof. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Jumat (14/8/2020) lalu.

Sekretaris KAGAMA Bali, Arya Suharja, mengatakan, secara etimologis Kerthamasa memiliki arti masa jeda demi kesejahteraan berkelanjutan.

“Konsep Kerthamasa berada dalam keutuhan paradigma Subak. Subak berasal dari kata Subhakarma yang berarti parilaksana becik),” ucap Arya, melansir Berita Bali, Selasa (14/8/2020).

“Konsep ini lahir dari suatu sistem pengetahuan yang terbangun dari praxis atau pengalaman panjang dalam tradisi pertanian,” terangnya.

Sebanyak 37 karya dari tujuh perupa tampil dalam pameran yang digagas Pengda KAGAMA Bali bersama Agung Rai Museum of Art Museum Ubud. Foto: KAGAMA Bali
Sebanyak 37 karya dari tujuh perupa tampil dalam pameran yang digagas Pengda KAGAMA Bali bersama Agung Rai Museum of Art Museum Ubud. Foto: KAGAMA Bali

Baca juga: Kata Dubes Kenssy, Indonesia Berkesan bagi Warga Ceko yang Pernah Berkunjung

Menurut Arya, Kerthamasa adalah siasat kebudayaan untuk meraih produktivitas optimal dan berkelanjutan dalam usaha pertanian basah di Bali Dwipa, sebuah pulau kecil vulkanis dengan dataran rendah yang sempit.

Dalam arti sederhana, konsep pertanian tradisional Bali mengenal istirahat sejenak sesaat setelah musim panen. Istirahat ini dilakukan agar tanah meregenerasi diri.

Secara khusus, tanah akan mengalami pemulihan kadar Ph, memutus siklus hama padi, dan peremajaan sebelum ditanami.

Momen ini dimanfaatkan petani Bali dengan menanam palawija seperti kacang-kacangan untuk memulihkan kesuburan tanah.

“Kerthamasa adalah langkah konstruktif dan proaktif dalam ide pertanian lestari,” ujar Arya, alumnus Fakultas Hukum UGM.

Baca juga: Andi Mallarangeng Ingat Suguhan Sirup Asem Saat KASIOGAMA Adakan Pertemuan