Direktur Microsoft Indonesia Alumnus Filsafat UGM Berbagi Resep Meniti Karier bagi Mahasiswa

7610

Baca juga: Sekjen KAGAMA: Perubahan Kebiasaan Baru Butuh Paham Sosial-Budaya Masyarakat

“Selain itu, kita juga memiliki pemahaman dalam konteks berpikir dan menyampaikan dengan runut dalam waktu singkat. Itu semua adalah keahlian yang saya pikir didapat oleh teman-teman Filsafat,” paparnya.

Tak cukup di situ, Ajar memandang bahwa lulusan Filsafat UGM juga mesti memperkaya kemampuannya dengan mengasah softskill.

Bagaimana caranya? Kata Ajar, salah satunya dapat dilakukan dengan mengikuti UKM.

Semasa kuliah di Filsafat UGM antara 1997-2003, Ajar mengaku mengikuti UKM Balairung dan Pijar.

Melalui UKM, dia percaya seseorang bakal mendapat skill sesuai passion yang berguna pada masa mendatang.

Baca juga: Strategi Perbankan Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi

Kata Ajar, passion adalah tanda apakah seseorang memiliki ketahanan untuk mengerjakan lebih.

Hal ini sering ditanyakan oleh perusahaan global kepada calon karyawan yang diinterviu.

“Penguatan kapasitas diri penting. Bisa (didapat melalui jalur) formal. Namun, softksill yang kuat membuat seseorang memiliki aktivitas belajar meski sudah lulus,” kata Ajar.

“Pengalaman hidup di kampus membentuk seseorang menjadi kuat,” bebernya.

Selain mengikuti UKM, menurut Ajar, memperoleh sertifikasi pada bidang tertentu juga penting guna melengkapi kompetensi.

Baca juga: KAGAMA Bengkulu Beri Edukasi kepada Masyarakat untuk Olah Sampah Jadi Pupuk Organik

Hal itu tergantung pada bidang pekerjaan apa yang hendak dimasuki kelak.

Oleh karena itu, Ajar berpesan agar mahasiswa mau membekali diri dengan keahlian-keahlian pendukung.

“Ketika kamu bekerja harus ada tiga dampak: Untuk orang lain, perusahaan, dan bisnis secara keseluruhan,” ucap Ajar.

“Itu butuh kreativitas dan endurance. Tapi yang penting adalah keahlian dan komunikasi,” pungkasnya. (Ts/-Th)

Baca juga: Ganjar Dorong Lahirnya Entrepreneur Lewat Kartu Prakerja