Alumnus FEB UGM Ini Sebut Industri Tekstil Indonesia Mampu Selamatkan Ekonomi dan Kesehatan di Masa Pandemi

165
Praktisi Manajemen Krisis dan Ekosistem Industri, Muhammad Arif Bintoro Debyoseputro optimis bahwa Industri Tekstil Indonesia Mampu Selamatkan Ekonomi dan Kesehatan di Masa Pandemi. Foto: Ist
Praktisi Manajemen Krisis dan Ekosistem Industri, Muhammad Arif Bintoro Debyoseputro optimis bahwa Industri Tekstil Indonesia Mampu Selamatkan Ekonomi dan Kesehatan di Masa Pandemi. Foto: Ist

KAGAMA.CO, JAKARTA – Industri Tekstil dan Produk Tekstil (ITPT) merupakan sektor bisnis yang unik, karena seringkali digunakan oleh beberapa negara sebagai entry point untuk belajar kegiatan berindustri secara umum.

Praktisi Manajemen Krisis dan Ekosistem Industri, Muhammad Arif Bintoro Debyoseputro mengatakan, industri ini bersifat padat karya dan padat modal.

“Jadi semakin ke hulu, maka semakin high tech dan padat modal,” ujarnya.

Arif membabar hal tersebut dalam seminar daring KAGAMA Inkubasi Bisnis X bertajuk Best Practice Manajemen Krisis: Membangun Network dan Potensi Funding Untuk Melewati Masa-masa Sulit, pada Sabtu (30/5/2020).

Selain Arif, seminar tersebut juga menghadirkan Wimboh Santoso (Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, sebagai keynote speaker), Friderica Widyasari Dewi (Direktur Utama PT Danareksa Securitas) dan Eni Widiyanti (Kepala Bidang Perbankan Kemenko Perekonomian RI).

Baca juga: Pemerintah Gelontorkan Rp190 Triliun untuk Dukung Usaha Rakyat di Masa Pandemi

Arif menjelaskan, untuk menciptakan satu lapangan kerja di hulu, ITPT membutuhkan modal hampir Rp500 juta per kepala. Untuk itu, jika pemerintah ingin menciptakan lapangan kerja yang padat karya, ITPT bisa jadi solusi untuk mewujudkannya.

“ITPT sudah biasa menghadapi masa krisis yang disebabkan oleh alam. Selain itu, hasil dari ITPT Indonesia diekspor ke lebih dari 170 negara,” tandasnya.

Beberapa negara diantaranya adalah negara empat musim, sehingga setiap empat bulan sekali ITPT menghadapi krisis.

“Kalau kami terlambat mengekspor produk kaos untuk musim panas, maka bisa dipastikan penjualannya akan gagal karena tidak dibutuhkan lagi oleh negara-negara tersebut,” tuturnya.

Arif menerangkan, penguasaan ITPT di Indonesia sudah mencapai 75 persen di dalam negeri. Pasalnya, Indonesia mampu memproduksi bahan baku tekstil, salah satunya serat sintetis polyester.

Baca juga: Langkah OJK untuk Selamatkan Sektor Jasa Keuangan dan UMKM di Masa Pandemi