Zaman Kalisengoro, Sebuah Masa ketika Wabah Corona Telah Diramal Prabu Joyoboyo

39208
Dosen UNY alumnus UGM, Dr. Purwadi, S.S., M.Hum, membabar ramalan Prabu Joyoboyo yang berkaitan dengan wabah virus corona. Foto: Suara Jogja
Dosen UNY alumnus UGM, Dr. Purwadi, S.S., M.Hum, membabar ramalan Prabu Joyoboyo yang berkaitan dengan wabah virus corona. Foto: Suara Jogja

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Fenomena wabah virus corona benar-benar memberikan sebuah tanda untuk penghuni bumi masa mendatang.

Tanda berupa sejarah bahwa ada kejadian luar biasa yang tertulis pada awal abad ke-21.

Yakni ketika makhluk sebesar  0,125 mikrometer mampu membunuh lebih dari 247 ribu orang (worldmeter, per 3 Mei 2020) di seluruh dunia.

Di sisi lain, dampak yang ditimbulkan oleh virus corona tidak cuma jumlah kehilangan nyawa.

Namun, juga kemacetan pusar perekonomian, kelangkaan sumber pangan, hingga perang kepentingan.

Generasi yang akan datang tentu bisa berkaca pada pandemi ini sebagai sebuah pembelajaran.

Akan tetapi, generasi masa kini perlu menengok ke belakang. Yaitu ketika penguasa ketiga Kerajaan Kediri, Prabu Joyoboyo (1135-1157), telah meramalkan kedatangan sebuah wabah, ratusan tahun silam.

Baca juga: Boleh Konsumsi Mi Instan dan Frozen Food Selama Puasa, Asalkan…

Cerita mengenai ramalan Joyoboyo coba dibabar oleh Ketua Lokantara (Lembaga Olah Kajian Nusantara), Dr. Purwadi.

Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange (Sungai kehilangan kedalaman lubuknya, pasar kehilangan gema,” tutur Purwadi.

“Begitu ramalan Prabu Joyoboyo dalam membaca owah gingsire jaman (perubahan zaman).”

“Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah (cerdas nan bijaksana, tahu sebelum fenomena terjadi),” jelas alumnus Fakultas Filsafat UGM ini.

Menurut Purwadi, nasihat pujangga Kerajaan Kediri adalah hal yang membuat Joyoboyo mengerti perubahan zaman.

Sebab, Joyoboyo menjadikan nasihat para pujangga sebagai arah tujuan (pandam pandom panduming dumudi).

Para pujangga itu adalah Empu Sedah, Empu Panuluh, dan Empu Darmojo.

Baca juga: Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang Jadi Politikus Bandel di Masa Muda