Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang Jadi Politikus Bandel di Masa Muda

589

Baca juga: Bantu Penanganan Covid-19, KAGAMA Galang Donasi Lewat Konser Virtual ‘Ora Iso Mulih’

“Saat berorganisasi di Budi Utomo, dia tampak tak puas dan ingin mendirikan organisasi politik. Akhirnya dia membangun Indische Partij bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, sehingga seolah-olah dia meninggalkan Budi Utomo,” jelasnya.

Keinginannya untuk menjadi guru mulai tumbuh, ketika pengasingannya dipindahkan ke Belanda.

Suwardi sadar, untuk mewujudkan kemerdekaan, tidak cukup dengan politik, tetapi juga dengan masyarakat yang berpendidikan.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Pusat Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS), Prof. Agus Cahyono menerangkan, di sana Suwardi belajar dari ilmuwan barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan Santiniketan yang dia pelajari dari Tagore.

Suwardi, kata Agus, kemudian mendapatkan ijazah pendidikan bergengsi, Europeesche Akta sebagai pijakan baginya untuk membangun lembaga pendidikan di Indonesia.

Baca juga: Si Kecil Putri Pasangan Duo KAGAMA Balikpapan Ajak Lawan Corona Lewat Lagu

Tiba di tanah air, didirikanlah Perguruan Nasional Tamansiswa pada 1922. Dengan semangat pendidikan karakter, dirinya berusaha mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia.

Sejak saat itu, Suwardi lebih kerap dipanggil dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Mengutip gagasan Nelson Mandela, Agus sepakat bahwa pendidikan merupakan cara paling damai untuk mengubah dunia.

“Walaupun belum diimplementasikan dengan baik. Saya berharap jelang usia emas Tamansiswa pada 2045 mendatang, cita-cita KHD tersebut bisa terwujud,” jelas dosen Fakultas Kehutanan UGM itu. (Kn/-Th)

Baca juga: FISIPOL UGM Luncurkan Buku Tata Kelola Penanganan Covid-19 di Indonesia: Kajian Awal