Dr. Deendarlianto Suka Dengarkan Musik Thrash Metal Saat Banyak Masalah

2802

Baca juga: Butimo, Inovasi Mesin Batik Tulis Karya Peneliti UGM

“Ibu Saya kebetulan tidak bekerja. Pertanggungjawaban Saya sebagai anak pertama adalah membantu orang tua,” ucap Deen.

“Sebetulnya, lulus S1 Saya ingin langsung jadi dosen. Namun, penghasilan dosen waktu itu Saya rasa tidak cukup untuk membiayai tiga adik Saya.”

“Mau tidak mau Saya harus ‘berkorban’ dulu untuk sementara waktu sampai beberapa adik Saya lulus kuliah,” terang pria kelahiran 3 Agustus 1972 ini.

Bidang industri menjadi arena Deen membanting tulang selama kurang lebih enam tahun.

Di suatu perusahaan industri di Jakarta, dia bekerja sebagai design engineer.

Meski sempat merasa enjoy di sana, bayangan menjadi dosen tetap bersemayam dalam pikirannya.

Deen pun mengambil ancang-ancang guna merealisasikan mimpinya itu.

Baca juga: Wujudkan Ketahanan Energi Nasional, Pertamina dan Perusahaan Rusia Teken Kontrak Desain Kilang Minyak Tuban

“Karena baru S1, Saya rasa sudah terlambat. Untuk itu, Saya sekolah dulu,” ucap Deen.

“Tahun 2001 Saya mulai kuliah, tahun 2006 Saya selesai doktoral,” lanjutnya.

Periode 2001 hingga 2006 itu dihabiskan Deen untuk berkuliah S2 dan S3 di University of Tokushima, Jepang.

Selain itu, pria yang mempersunting adik kelas SMP-nya ini sempat mencicipi beasiswa riset posdoktoral di Jerman pada (2008-2010).

Beasiswa itu diberikan melalui Alexander von Humboldt-Stiftung Foundation dari Pemerintah Jerman.

Deen akhirnya benar-benar menjadi dosen UGM setelah SK Dekan Fakultas Teknik terbit pada Januari 2007.

Baca juga: Jelajah Gunung ala Reuni Pertanian ’72 yang Gayeng dan Nostalgia Bambang Ungaran ‘Si Dunia Terasa Berputar’