Mahasiswa Teknik Sipil UGM Temukan Algoritma Ramalan untuk Hindari Hujan Pemicu Banjir Lahar

466
Sebuah konsep pendekatan ramalan hujan pemicu banjir lahar ditemukan oleh Mahasiswa S3 Teknik Sipil. Foto: Humas UGM
Sebuah konsep pendekatan ramalan hujan pemicu banjir lahar ditemukan oleh Mahasiswa S3 Teknik Sipil. Foto: Humas UGM

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada 2012 mencatat Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif.

Salah satu di antaranya adalah Gunung Merapi yang terletak di utara Yogyakarta.

LIPI mengkategorikan Gunung Merapi sebagai gunung yang mendapatkan perhatian khusus sejak mengalami erupsi dahsyat pada 2010.

Pasalnya, LIPI mengklaim gunung dengan tinggi 2930 m ini sebagai salah satu yang paling aktif di dunia.

Terbaru, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan bahwa pada Rabu (15/1) Gunung Merapi mengalami dua kali gempa guguran.

Fakta tersebut mendorong Mahasiswa Prodi S3 Teknik Sipil UGM, Roby Hambali, mengambil  Gunung Merapi sebagai objek dalam penelitiannya.

Dia melakukan penelitian tentang model peramalan hujan jangka pendek.

Baca juga: UGM Bikin Lidah Elektronik Serba Bisa yang Mampu Deteksi Kehalalan Produk

Roby menilai, intensitas curah hujan memiliki keterkaitan dengan aktivitas aliran lahar.

Model peramalan hujan jangka pendek yang dia kembangkan menggunakan metode High-Resolution Pixel-based QPN dengan PLKOF atau model HPLK.

“Jika peramalan hujan jangka pendek dapat dilakukan dengan akurasi yang tinggi, maka hasilnya menjadi kontribusi yang sangat berarti bagi pengembangan sistem peringatan banjir lahar,” terang Roby, pada ujian terbuka yang berlangsung Kamis (16/1), melansir laman resmi UGM.

“Model peramalan hujan jangka pendek yang dihasilkan dari penelitian ini sangat potensial diterapkan untuk aplikasi-aplikasi yang berhubungan dengan peringatan banjir lahar di wilayah Gunung Merapi,” tuturnya.

Lebih lanjut, penelitian  Roby mengambil pendekatan karakteristik topografi dan iklim yang khas dari Gunung Merapi.

Dia pun yakin, informasi distribusi spasial hujan jangka pendek melalui proses peramalan sangat dibutuhkan.

Yakni demi pengembangan aplikasi yang berhubungan dengan upaya mitigasi banjir lahar.

Baca juga: Hadapi Revolusi Indusri 4.0, Kemendikbud Dorong PTN Jadi PTN BH