Belajar Egaliter dan ‘Ngewongke Wong’ ala I Wayan Nuka Lantara

1875

Baca juga: Alasan Kelompok Radikal Nekat Lakukan Aksi Teror Berkedok Agama

Senang Tinggal dan Berkarier di Jogja

Di samping suasana kampus yang menyenangkan, suasana Jogja selalu membuat Wayan jatuh cinta, bahkan sampai selesai menempuh studi pun dia tetap sudi hidup di Jogja.

”Entah, sampai sekarang Saya betah sekali di Jogja, itu yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk hidup di Jogja. Sempat memiliki keinginan bekerja di Jakarta, tetapi beberapa minggu tinggal di sana Saya nggak betah,” ungkapnya.

Sadar dengan kewajibannya menempuh pendidikan tinggi lagi, Wayan kemudian menempuh studi S3-nya di Kobe University, Jepang pada 2008.

”Kebanyakan dosen di sini lulusan Amerika, Eropa, dan Australia. Sedikit lulusan dari Asia, sehingga Saya ingin memberi warna yang beda dengan kuliah di Jepang,” ujar Wayan.

Mengulang masa yang sama saat kuliah S1, Wayan mengambil pekerjaan sambilan sebagai asisten dosen untuk kegiatan kuliah dan penelitian.

Baca juga: Kuliah Sambil Bekerja di Apotek, Ellsya Angeline Jadi Lulusan Terbaik Farmasi UGM

Menjadi Manusia yang Berguna Berkat Profesinya

Terpilih menjadi Kaprodi S1 Manajemen tidak menjadi beban bagi Wayan, dia justru menikmati profesinya itu.

”Saya senang pekerjaan ini, bisa lebih sering bertemu mahasiswa. Saya merasa tertantang, ketika harus membantu mahasiswa yang memiliki permasalahan akademik dan non akademik. Mendengarkan mereka, kemudian memberi solusi. Sampai akhirnya bisa lulus. Ini membuat Saya merasa lebih berguna,” ungkapnya.

Banyak perubahan yang Wayan temui selama dia menjadi mahasiswa hingga menjadi bagian dari FEB UGM lagi sebagai tenaga pendidik.

Mulai dari perubahan fisik kampus hingga karakter mahasiswa.

Namun, sikap egaliter sivitas akademikanya, kata Wayan, tak pernah berubah sejak dulu dan itu menjadi ciri khas FEB UGM.

Belajar dari Dosen Senior

Wayan dalam mengarungi perjalanan hidup, terinspirasi dari mantan Dekan FEB UGM, almarhum Dr. Soetatwo Hadiwigeno, MA, yang selalu bersikap universal.

Ada lagi Dosen FEB UGM, Dr. T. Hani Handoko, M.B.A dan Prof. Dr. Eduardus Tandelilin, MBA yang Wayan anggap sebagai mentornya selama ini.

Kemudian juga Dosen FEB UGM lainnya, yaitu almarhum Prof. Dr. Nopirin, MA, sosok yang dikenal karena sikap egaliternya.

“Mereka semua menghargai siapa saja. Beliau nggak peduli Saya bukan orang Jawa. Tapi sepanjang kita berperilaku baik, diterima dengan baik, bahkan dimentori, pasti dihargai. Kalau bahasanya orang sini nge-wongke. Selain itu, beliau-beliau adalah pekerja keras yang cermat,” pungkasnya.

Di luar kesibukannya mengajar dan menjalankan tugas-tugas sebagai Kaprodi, Wayan juga kerap dimintai bantuan untuk menjadi konsultan bank. (Kinanthi)

Baca juga: Cara Sederhana Menghindari Plagiarisme