Sri Margana: Sejarah itu Seksi di Segala Bidang

3933

Baca juga: Candi Sambisari, Nikmati Keindahan Peninggalan Sejarah di Bawah Tanah

Tidak berselang lama setelah itu, jodoh Margana untuk merasakan studi di negeri Kincir Angin akhirnya terlaksana juga.

Ia mengikuti summer course di Belanda karena lolos penelitian selama 5 bulan, dan di sinilah perjalanan karier seorang Margana dimulai.

Ketika penelitian, ia mendaftar PNS dan diterima di bulan ke-4. Saat itu ia masih di Belanda.

Sambil mengejar waktu, ia menyelesaikan penelitian di Belanda dengan cepat dan pulang untuk mengurus pencalonan PNS yang ketika itu sudah di tahap minggu terakhir.

“Ketika pulang dan mengurus di Gedung Pusat Kantor Kepegawaian, ternyata saya menjadi yang terakhir di sesi tersebut. Puji syukur saya masih terkejar di menit akhir dan diterima,” kenangnya.

Baca juga: Indonesia dan Sejarah Berdirinya Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa Rusia

Tahun 1998 Margana secara resmi menjadi PNS dan memutuskan untuk mengambil master di UGM sebagai syarat menjadi dosen.

Satu tahun di masa studi S2 nya, Margana mendapat kabar gembira dengan diterimanya Program Magister Lanjutan di CNWS, Leiden University, Belanda.

Alhasil pada semester 2, ia langsung mengambil tesis untuk mengejar tahun yang sama di Leiden.

“Ketika mengerjakan tesis, hidup saya hanya di kampus dan kosan saja. Setiap hari terus mengejar deadline tesis dan persiapan ke Leiden,” terang dosen yang gemar melukis itu.

Setelah berhasil menyelesaikan studi master di UGM hanya dengan 1 tahun, Margana langsung melanjutkan studi di Leiden tanpa mengikuti prosesi wisuda di UGM, karena waktu yang bersamaan.

Di Leiden, Margana melanjutkan studi doktor dan menghabiskan waktu selama tujuh tahun di sana.

Pada 2008 ia pulang untuk mengabdi di UGM, dan tidak lama kemudian terpilih menjadi Ketua Program Studi S2, sebelum akhirnya menjadi Ketua Departemen.

Fokus Tingkatkan SDM

Selama menjadi Ketua Departemen Sejarah, Margana memfokuskan untuk meningkatkan SDM dan menjalin kerja sama dengan universitas-universitas lain.

“Dosen-dosen kami memiliki jaringan global dan hal ini dapat dimanfaatkan untuk kerja sama. Setiap tahun sudah ada dosen tamu, workshop, dan seminar dari Hamburg University, Melbourne, Leiden, Filipina, dan Thailand,” sambungnya.

Margana juga menginisiasi program summer school di Prodi Sejarah yang selama ini selalu diikuti 10 negara.

Prodi Sejarah UGM sudah dua kali menjadi tuan rumah program summer school.

Bagi Margana, sejarah saat ini sangat seksi. Sejarah hadir di mana-mana, dikemas dalam pertunjukan dan literatur.

Ia menambahkan jika dasar sejarah sangat bagus untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.

Menurutnya, ilmu sejarah juga dibutuhkan di berbagai bidang pekerjaan. (Sirajuddin)

Baca juga: Ingin Melestarikan Cagar Budaya, Yenny Jadi Lulusan Terbaik Pascasarjana FIB UGM