Rika Harini: Penguasaan Teknologi Jadi Tantangan Dosen

868

Baca juga: Pakar Geografi University of Hawaii Isi Kuliah Tamu di Fakultas Geografi UGM

Belajar Sambil Mengajar

Setelah menyandang status sarjana pada 1996, Rika tidak langsung melanjutkan studi, tetapi bekerja dulu di sebuah lembaga penelitian.

Bersamaan dengan itu, Rika juga melamar pekerjaan lainnya. Sampai akhirnya ia bergabung di Departemen dan memiliki kewajiban untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sempat gagal mendaftar kuliah S2 di luar negeri, Rika memutuskan untuk menempuh pendidikan lanjut di dalam negeri, yakni di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM.

Layaknya tenaga pendidik yang lain, Rika juga ingin terus mengembangkan keilmuan, sampai ia berhasil meraih gelar doktornya di program studi S3 Geografi UGM.

Baca juga: Mengenang Almarhum Sutopo Saat Kuliah di Kampus Kerakyatan

Rika menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi berkat keinginan, kesempatan, dan tuntutan dari perguruan tinggi. Keputusan untuk menempuh studi di dalam negeri juga dilandasi oleh pertimbangan Rika yang pada saat itu sudah berkeluarga.

Menurutnya, tak hanya dosen yang melanjutkan studi di luar negeri yang punya tantangan, tetapi juga mereka yang studi di dalam negeri.

“Kalau sekolah di sini, tantangannya kita juga harus mengajar, harus membimbing, Tri Darma Perguruan Tinggi itu juga harus dilakukan. Sementara kita juga dikejar waktu untuk menyelesaikan studi,” ujar ibu dua anak itu.

Selain itu, bagi Rika penting bagi akademisi mengembangkan ilmu pengetahuan, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan memahami pemanfaatan teknologi.

Baca juga: Kisah Senawi Kecil Hadapi Keterbatasan Finansial, Sekolah Sambil Jualan Beras

“Geografi berbeda dengan ilmu alam lainnya. Tidak seperti matematika atau statistika, ilmu yang sudah given sejak dulu. Geografi berkembang. Fenomena alam yang dikaji mengikuti tren,” ujar perempuan kelahiran 46 tahun lalu itu.

Di samping itu, metode penelitian dan cara mengajar juga harus diperbarui. Apalagi mahasiswa sekarang jauh lebih pintar dalam hal penguasaan teknologi dan bahasa.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi dosen. Mau tidak mau dosen harus bisa mengimbangi kemampuan mahasiswanya.

Cerita Saat Menjabat sebagai Kaprodi

Begitu juga ketika Rika menjadi Ketua Prodi (Kaprodi) sekaligus Ketua Departemen (Kadep), Rika menghadapi tantangan memimpin organisasi di Departemen, terutama ketika harus mengatur dan mengkoordinasi orang-orang di dalamnya.

“Saya sering dihadapkan pada sesuatu yang tidak pasti. Manajemen dan komunikasi ini yang jadi tantangan. Ternyata pusing juga ya,” ujarnya sambil tertawa.

Meskipun begitu, Rika percaya selalu ada solusi untuk berbagai kendala yang dihadapinya.

Sebagai Kaprodi, Rika berpesan kepada calon mahasiswa barunya, agar mereka memiliki kemampuan menganalisis lingkungan yang kuat.

Baca juga: Petualangan Baiquni Ingin Wujudkan Pendidikan yang Berdaulat

Selain itu, kemampuan fisik juga perlu dipersiapkan, karena mahasiswa akan sering melakukan kuliah lapangan.

“Geografi lingkungan itu praktiknya paling banyak. Selain di laboraturium, biasanya juga di lapangan, sehingga kalau fisik tidak kuat, terkadang bisa jadi kendala. Kemudian tidak boleh buta warna juga,” jelasnya.

Sementara wawasan yang dibutuhkan yaitu terkait isu-isu lingkungan dan kebumian, serta bagaimana pergerakan kedepannya.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa Geografi untuk menguasai teknologi dan memiliki kemampuan bahasa asing yang baik.

Tak hanya itu, nilai akademik yang tinggi perlu diimbangi dengan sotfskill. Lulusan diharapkan tidak hanya bekerja sebagai PNS, tetapi bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. (Kinanthi)

Baca juga: Pakar UGM Bicara Soal Pemindahan Ibu Kota Negara