Sosok Ketua FKY 2019 yang Bercita-cita Jadi Seniman Sejak Kecil

14759

Kembangkan Musik dengan Kebudayaan Jawa

Selain memang bercita-cita menjadi seniman, menurutnya jurusan kuliah yang ia ambil dengan passion-nya itu saling melengkapi.

Pria kelahiran 16 Juni 1985 itu memang memiliki latar belakang musik dan kebudayaan Jawa.

Almarhum ayahnya adalah seorang seniman teater, sehingga tak heran bila hidup Paksi tidak pernah jauh dari seni.

Pada 2016, Paksi mulai melahirkan berbagai karya yang berhubungan dengan Sastra Jawa.

Baca juga: Sri Ratna Saktimulya, Kembangkan Prodi Sastra Jawa dengan Berpijak pada Akar Budaya

Setelah keluar dari Jasmine Akustik dan bersolo karier, akhirnya ia membentuk kelompok yang diberi nama Mantradisi.

Kelompok ini menyajikan pertunjukkan macapat dan musik modern. Mantradisi masih terus berkarya hingga saat ini.

“Di situ saya juga terlibat project banyak sekali sama Kuaetnika, Kill The DJ, dan kolaborasi lainnya banyak sekali,” jelasnya.

Dolanan Anak dalam Konser Sariswara. Foto: Paksi
Dolanan Anak dalam Konser Sariswara. Foto: Kinanthi

Mengembangkan Kreativitas di Bidang Lain

Selain di dunia musik, Paksi juga sempat berkiprah di dunia media dan jurnalistik. Ia sempat diberi amanah untuk menjadi pemimpin redaksi Jawacana, Tabloid Bahasa Jawa.

Karena mempunyai waktu senggang, Paksi bersama istrinya kemudian juga mencoba peruntungan di dunia bisnis.

“Merintis usaha juga di bidang konveksi, boutique, dan kerajinan kulit sejak tahun 2009 sampai sekarang masih jalan. Jadi, kegiatan saya selain seniman, kalau pagi sampai siang ya di toko,” ungkapnya.

Diungkapkan Paksi, membuka bisnis saat itu hanya iseng. Namun, kini malah berkembang dan menjadi sesuatu hal yang harus dikerjakan dengan serius.

“Akhirnya terasah kemampuan bisnisnya, meskipun saya tidak ada basic bisnis. Terus akhirnya jalan, tanggung jawabnya banyak, karyawannya juga harus ditanggung. Salah satu lini penghasilan kami ya bisnis itu,” ujarnya.

Kiprah sebagai Ketua FKY 2019

Paksi ditunjuk sebagai Ketua Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019.

“Sebelumnya hanya jadi penampil saja. Kebetulan karena kali ini momentumnya kebudayaan, saya jadi salah satu kandidat ketuanya. Katanya punya latar belakang kebudayaan Jawa, karena lulusan Sastra Jawa,” jelasnya.

Tahun ini, FKY terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari segi nama hingga penyelenggaraan.

Paksi menjelaskan, hal ini disesuaikan dengan kebijakan pemerintah, tahun 2019. Kepanjangan FKY yang tadinya Festival Kesenian Yogyakarta, harus diganti menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta.

“Tantangannya adalah cakupan FKY, mulai dari program hingga sajiannya itu harus luas. Tidak hanya kesenian saja. Ada tujuh unsur kebudayaan yang harus diterjemahkan dalam FKY ini. Seperti bahasa, pengetahuan, teknologi, adat istiadat, benda, nilai-nilai budaya, dan seni. Jadi, seni itu hanya salah satu dari unsur kebudayaan itu,” jelasnya.

Paksi mencotohkan salah satu rangkaian acara FKY di Pendopo Agung Taman Siswa.

Baca juga: Peran Taman Siswa sebagai Cucuk Lampah Pendidikan Nasional