Membincang Buku Kesenian Reog Ponorogo di Jawa Timur

515
Makna dari kesenian tidak hanya dari teks legenda tapi juga dari praktik yang dilakukan.(Foto: Rosa)
Makna dari kesenian tidak hanya dari teks legenda tapi juga dari praktik yang dilakukan.(Foto: Rosa)

KAGAMA.CO, BULAKSUMUR – Alunan kendang dan serompet menggema di Gedung Auditorium Sekolah pasca sarjana UGM. Empat penari perempuan lengkap dengan busana tarian Reyog Ponorogo berlenggak-lenggok sembari membawa buku berjudul Play and Display: Dua Moda Pergelaran Reyog Ponorogo di Jawa Timur.

Penampilan dari Grup Reyog Manggolo Mudho tersebut menjadi pembuka acara peluncuran buku yang ditulis oleh G.R. Lono Lastoro Simatupang, Jumat (26/04/2019). Ia merupakan salah satu pengajar Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh sang penulis, buku tersebut resmi diluncurkan. Ada sedikitnya lima bab yang mengisi buku dengan jumlah halaman berkisar 300-an. Buku ini merupakan hasil penelitian untuk disertasi yang dilakukan oleh lelaki yang akrab dipanggil Lono ini lima belas tahun yang lalu.

Acara peluncuran buku ini kemudian dilanjutkan dengan bedah buku yang dimoderatori oleh Michael HB Raditya. Tak hanya itu, acara yang juga termasuk dalam rangkain ulang tahun Program Studi PSPSR ini juga mengundang pegiat film, seni dan penulis Garin Nugroho.

Nugroho beranggapan buku kedua Lono ini memiliki sumbangsih yang cukup berarti bagi kajian seni tradisi. Tak hanya itu, buku ini menurutnya juga bisa menjadi satu kebanggan tersendiri untuk para penggiat reog.

Lelaki yang baru saja memprodukai film yang juga bersinggungan dengan dunia Reyog ini juga merasa mendapat tambahan informasi terkait dunia reog.

“Sebagai pembuat film saya jadi memiliki gambaran jika nantinya bakal membuat film tentang reog lagi,” terang Nugroho.

Tiga Kekuatan Buku

Setelah membaca buku Lono, Nugroho melihat ada tiga kekuatan dari buku ini. Yang pertama, buku yang diadopsi dari disertasi ini memiliki bahasa tutur yang sangat sederhana dan mudah dipahami.

“Buku ini enak dibaca, karena mengalir. Baca buku ini rasanya nyaman, dalam dan detil,” papar nugroho.

Menurutnya ini merupakan hal yang langka untuk ditemukan pada disertasi universitas ternama. Mengingat biasanya disertasi menggunakan banyak istilah yang membuat lelah pembaca.