Mandi di Tepian Kali Code

471
Kukuh Syaefudin Achmad hidup kos di Yogyakarta bersama rekan- rekan mahasiswa sekampung halaman dari Purbalingga. Foto : Josep/KAGAMA
Kukuh Syaefudin Achmad hidup kos di Yogyakarta bersama rekan- rekan mahasiswa sekampung halaman dari Purbalingga. Foto : Josep/KAGAMA

KAGAMA.CO, JAKARTA – “Hidup sebagai anak kos, jauh dari orang tua, serta minim secara finansial membuat saya mesti berhemat.”

“Uang kiriman orang tua sering kali tidak cukup untuk biaya hidup sebulan sehingga saya harus bisa mengatur uang kiriman orang tua tersebut dengan cara secermat mungkin.”

Itulah sepenggal kisah Kukuh Syaefudin Achmad, Deputi Bidang Penelitian dan Kerja Sama Standardisasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), kala mengenang kehidupannya semasa menjadi mahasiswa di Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Melihat kembali ke belakang perjalanan hidupnya, Kukuh menuturkan, selepas lulus dari SMA Negeri Purbalingga, dia diterima kuliah di Fakultas Farmasi UGM pada tahun 1983.

Oleh sebab itu, dia hidup kos di Yogyakarta bersama rekan- rekan mahasiswa sekampung halaman dari Purbalingga.

“Kami semua berasal dari keluarga sederhana, mungkin cenderung susah. Uang kami pun minim jadi mesti kos bareng agar bisa hemat,” ujar Kukuh di Jakarta.

Dia hanya mengandalkan kiriman uang dari ayahnya yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar negeri di Purbalingga sehingga ia mesti berhemat.

Oleh karenanya Kukuh juga memilih tempat kos yang murah dan sangat sederhana.

“Kalau musim kemarau, saat air sumur di kosan kering maka saya dan teman- teman terpaksa ikut mandi di sebuah mata air di tepian Kali Code.”

“Kebetulan tempat kosan saya dekat dengan kali tersebut. Pengalaman hidup menjadi mahasiswa di Yogyakarta benar-benar membekas di benak saya,” ucap anak keempat dari tujuh bersaudara ini yang selama menjadi mahasiswa kos di daerah Pogung Dalangan yang kala itu menghadap persawahan yang asri. (Jos)