Gubernur DIY Paparkan Resep Merajut Keindonesiaan di UTM, Bangkalan

65

KAGAMA.CO, BANGKALAN – Setiap elemen bangsa perlu mengambil peran strategis untuk membangun semangat kebangsaan yang meng-Indonesia dengan menegasikan semua kepentingan sempit atas Suku, Agama, Ras dan AntarGolongan (SARA).

Demikian disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubawono X pada Rabu (12/12/2018) di Gedung Pertemuan Kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan. Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan menyampaikan Pidato Kebangsaan bertajuk “Penguatan Nilai-nilai Kebangsaan Guna Merajut Keindonesiaan”.

“Diharapkan peran kaum intelektual untuk melakukan transformasi ide-ide kebangsaan dengan metoda yang mudah dicerna Generasi Muda,” ujar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, semangat merajut kembali keindonesiaan dewasa ini perlu digaungkan lebih kuat. Termasuk bagi generasi muda. Hal ini karena belakangan kerap muncul pertanyaan tentang surutnya semangat kebangsaan.

Pertanyaan itu, kata Sultan, seiring dengan menguatnya politik identitas, semangat membentuk negara Islam, dan cita-cita untuk menghidupkan kembali Piagam Djakarta oleh kelompok tertentu.

Sri Sultan mencontohkan negara Jepang. Menurutnya, fakta menunjukkan Jepang sukses mengembangkan ilmu pengetahuan, industri dan teknologi Barat. Kemajuan Korea Selatan berakarkan ajaran Konfusius menempatkan penghargaan terhadap pendidikan. Revitalisasi terhadap budaya sendiri adalah basis Ketahanan Budaya bangsa Jepang dan Korea terhadap terpaan Gelombang Budaya Global.

“Setiap negara maju pun tetap membina Jiwa Nasionalisme agar tidak luntur. Itulah alasan mengapa bangsa Indonesia harus terpanggil dan tergerak guna menguatkan Nilai-Nilai Kebangsaan sendiri,” ungkapnya.

Sri Sultan menambahkan, pendekatan kultural pada hakikatnya adalah mediasi kemanusiaan yang bersumber dari hati nurani guna tercapainya rekonsilisasi yang berkelanjutan.

Sementara itu, kata Sri Sultan, untuk pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan, diperlukan optimalisasi solusi yang bersifat implementatif-konkret guna memperkuat Ketahanan Bangsa.

Sri Sultan menegaskan perlunya penguatan fungsi dan peran kelembagaan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai toleransi, keadilan dan toleransi yang berdasarkan Pancasila perlu diaktualisasikan dalam dinamika kehidupan masyarakat.

“Daya antisipatif menurut cara yang sesuai dengan perkembangan generasi milenial juga perlu ditingkatkan,” imbuh Sri Sultan.

Sebelumnya, tokoh Madura Prof. Dr. Mahfud MD mengajak para hadirin untuk merefleksikan kembali peran penting Yogyakarta di era revolusi kemerdekaan dan era reformasi. Mahfud menegaskan bahwa Yogyakarta punya peran penting dalam sejarah terbentuknya NKRI.

Mahfud menambahkan, selama ini pendekatan politik dan ekonomi pernah dilakukan. Namun keduanya gagal. Presiden Soekarno jatuh. Begitu juga Presiden Soeharto. Untuk itulah perlunya kita mendengarkan Pidato Kebangsaan Sri Sultan Hamengkubawono X tentang pendekatan kebudayaan dalam membangun bangsa dan merajut keindonesiaan.[TH]